Posted by & filed under Adat, Budaya, Pariwisata, Wisata Adat.

Sabtu, 02 Desember 2017, acara tahunan Penjamasan Benda Pusaka Jimat Kalisalak telah dilaksanakan. Acara ini merupakan salah satu daya tarik wisata adat yang ada di Desa Kalisalak. Setiap tahunnya, acara ini berhasil menarik banyak pengunjung dari berbagai daerah dan wilayah. Mulai dari para pengunjung dan pedagang berbondong-bondong hadir dalam acara tahunan ini. Jimat kalisalak merupakan bentuk peninggalan dari Sri Susuhunan Amangkurat Agung atau Amangkurat I, yang pada masanya merupakan raja dari kesultanan mataram yang memerintah tahun 1646-1677. Dalam penjamasan tahun ini, dibuka dengan penandatanganan kerjasama lokasi wisata curug song dan watugede oleh Perhutani KPH Banyumas Timur.

Acara penjamasan Jimat tahun ini diiringi dengan prosesi kirab yang dimulai dari Rumah Adat Desa Kalisalak dengan berjalan kaki menuju Pendopo Jimat. Pasukan kirab ini membawa air yang nantinya akan digunakan untuk menjamas benda-benda pusaka, dimana air ini diambil dari 7 sumber mata air di desa Kalisalak. Selain pasukan kirab, acara iring-iringan ini juga diikuti oleh Pokja wisata yang di Desa Kalisalak, diantaranya Pokja Song, Pokja Watugede, Pokja Teleng, Pokja Karangbanar, dan Pokja Paseban. Seluruh perangkat desa, dan tokoh-tokoh masyarakat juga ikut serta dalam iring-iringan ini. Berbagai media baik dari media cetak dan media televisi ikut meliput kegiatan tahunan ini. Masyarakat sangat antusias dalam menyambut acara ini, terbukti dengan meriahnya para pengunjung yang menyaksikan kirab ini disepanjang jalan dari Paseban sampai Pendopo Jimat. Selain itu, tamu undangan dari Keraton Surakartapun ikut hadir dalam prosesi penjamasan ini, sebelum hari penjamasan, setiap malam hari sebelum penjamasan selalu dilakukan prosesi “Maleman”, prosesi ini merupakan kegiatan tahlil dan doa bersama dengan harapan semoga masyarakat khususnya Desa Kalisalak selalu diberikan keselamatan dan kemakmuran oleh Allah SWT. Semoga acara penjamasan ini selalu bisa terjaga dan dilaksanakan seterusnya, karena kegiatan ini merupakan salah satu kekayaan desa dan objek wisata yang harus dilestarikan untuk anak cucu nanti. Salam budaya..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *